<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sh3gh4's Blog</title>
	<atom:link href="http://sh3gh4.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sh3gh4.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Nov 2008 09:37:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sh3gh4.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sh3gh4's Blog</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sh3gh4.wordpress.com/osd.xml" title="Sh3gh4&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sh3gh4.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cerita Pendek KH A Mustofa Bisri : Mbok Yem</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/cerita-pendek-kh-a-mustofa-bisri-mbok-yem/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/cerita-pendek-kh-a-mustofa-bisri-mbok-yem/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 09:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan adikku di pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit bersama 4 pasang suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat dua orang yang hanya diberi sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada sedikit ruang kosong yang dipenuhi bermacam-macam makanan dan peralatan makan. Ibu memperkenalkan saya kepada kawan-kawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=21&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan adikku di  pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit bersama 4 pasang  suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat dua orang yang hanya diberi  sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada sedikit ruang kosong yang dipenuhi  bermacam-macam makanan dan peralatan makan. Ibu memperkenalkan saya kepada  kawan-kawan kelompoknya.</p>
<p>&#8220;Ini anak saya yang belajar di Mesir;&#8221; katanya  bangga. &#8220;Sudah empat tahun tidak pulang.&#8221;</p>
<p>Malu-malu saya menyalami  mereka satu per satu. Di antara mereka itu ada dua sejoli yang sudah sangat tua.  Lebih tua dari ibu. Yang laki-laki dan dipanggil Mbah Joyo lebih tua lagi.  Beberapa tahun lebih tua dari Mbok Yem, istrinya. Berbeda dengan Mbah Joyo yang  agak pendiam, Mbok Yem orangnya ramah dan banyak bicara, mendekati  ceriwis.</p>
<p>Yang kemudian menarik perhatian, sekaligus membuatku agak geli,  adalah kemesraan kedua sejoli itu. Mereka laiknya pengantin baru saja. Seperti  tidak menghiraukan senyum-senyum dan lirikan-lirikan menggoda kawan-kawannya  yang memperhatikan mereka, Mbok Yem menggelendot manja di pundak Mbah  Joyo.</p>
<p>&#8220;Pak, kita beruntung ya,&#8221; katanya sambil mengelus rambut suaminya  yang putih bagai kapas. &#8220;Nak Mus ini belajar agama di Mesir, dia bisa menjadi  muthawwif kita dan membimbing manasik kita.&#8221; Lalu ditujukan kepadaku, &#8220;Bukan  begitu, Nak Mus?&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk saja sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kalau  perlu Nak Mus pasti tidak keberatan mengantar kita ke mana-mana,&#8221; katanya lagi.  &#8220;Nanti Mbok Yem bikinkan sayur asem kesukaan Mbah Joyo. Mbok Yem paling ahli  bikin sayur asem. Tanyakan Mbah Joyo ini, lidahnya sampai njoget jika Mbok Yem  masak sayur asem.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia juga baru sekarang ini ke Mekkah,&#8221; tukas  ibuku. &#8220;Jadi di sini pengalamannya tidak lebih banyak dari kita-kita  ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tapi Nak Mus kan pasti pandai bahasa Arab; jadi tak akan  kesasar dan bisa menolong kita jika belanja. Kita tak perlu lagi menawar-nawar  pakai bahasa isyarat, kaya orang bisu.&#8221;</p>
<p>Orang-orang pada  ketawa.</p>
<p>&#8220;Tapi, Nak Mus ini kan tidak tinggal di sini bersama kita,&#8221; kata  salah seorang jamaah sambil menyodorkan segelas teh. &#8220;Terima kasih!&#8221; aku  menyambut teh panas yang disodorkan.</p>
<p>&#8220;Ya, Nak Mus tinggalnya di mana?&#8221;  tanya yang lain.</p>
<p>&#8220;Saya tinggal bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain,&#8221;  kataku, &#8220;tapi tidak jauh dari sini kok. Saya bisa sering kemari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah,  Pak, nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa khawatir,&#8221; kata Mbok Yem  lagi sambil memijit-mijit lengan Mbah Joyo. &#8220;Kita punya pengawal yang masih muda  dan bisa berbahasa Arab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu ini bagaimana,&#8221; Mbah Joyo yang dari tadi  hanya diam dan senyum-senyum tiba-tiba angkat bicara. &#8220;Nak Mus ke sini ini kan  bukan untuk kamu saja. Tapi terutama untuk ibu dan adiknya yang sudah lama tidak  bertemu. Mereka pasti ingin berkangen-kangenan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, saya tahu,&#8221; sahut  Mbok Yem sambil mleroki suaminya. &#8220;Saya juga tidak bermaksud menguasai Nak Mus  sendiri. Maksud saya kita bisa nginthil, ikut bersama-sama ibu dan mbak bila  mereka ke masjid atau ke mana saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Enak saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, sudah,&#8221;  kata ibuku memotong. &#8220;Sudah jam setengah sebelas. Ayo kita siap-siap ke masjid!&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Alhamdulillah, sejak di Arafah saya bisa bergabung bersama  rombongan ibu. Malam menjelang wukuf, kami sudah sampai ke padang luas yang  menjadi seperti lautan tenda itu. Beberapa orang tampak letih. Justru Mbok Yem  dan Mbah Joyo &#8211;anggota rombongan yang paling tua&#8211; sedikit pun tidak  memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan pancaran semangat dua sejoli ini  tampak jelas seperti mempermuda usia mereka. Ketika paginya, saya ajak mereka  keluar kemah untuk melihat suasana Arafah yang begitu luar biasa. Meski mentari  belum begitu mengganggu dengan sengatan panasnya, dia telah memberikan cahayanya  yang benderang pada hamparan putih Arafah. Sejauh mata memandang, putih-putih  tenda dan putih-putih kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan  bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu. Dari  kejauhan tampak &#8220;bukit manusia&#8221; dengan puncak sebuah tugu yang juga berwarna  putih. &#8220;Apakah itu Jabal Rahmah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, itulah Jabal Rahmah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa  betul itu tempat pertemuan pertama Bapa Adam dengan Ibu Hawa setelah mereka  turun dari sorga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wallahu a’lam ya, tapi memang banyak yang  percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa kita akan ke sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tak perlu. Lagi pula itu  jauh. Kelihatannya saja dekat. Wukuf yang penting di Arafah, beristighfar dan  berdoa. Di sini saya kira kita bisa lebih khusyuk.&#8221;</p>
<p>Ketika kembali ke  kemah, tampaknya kawan-kawan jamaah masih membawa kesan mereka dari melihat  panorama yang belum pernah mereka saksikan itu.</p>
<p>&#8220;Orang kok sekian  banyaknya itu dari mana saja ya?&#8221;v &#8220;Ya, ada yang hitam sekali, putih sekali,  yang coklat, malah ada yang seperti tomat kemerah-merahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekian  banyak orang kok pakaiannya putih-putih semua, masya Allah!&#8221;</p>
<p>Semua yang  berbicara itu mengarahkan pandangannya kepadaku, seolah-olah komentarku memang  mereka tunggu. Atau ini hanya perasaanku saja. Tapi aku bicara juga. &#8220;Kata guru  saya, inilah gambaran mini nanti saat kita di padang Makhsyar, ketika semua  orang dibangunkan dari alam kubur. Tak ada kaya tak ada miskin; tak ada orang  besar tak ada orang kecil; tak ada bangsawan tak ada jelata; semuanya sama.  Semuanya digiring di padang terbuka seperti di Arafah ini. Bedanya, di sini  masih ada tenda dan naungan-naungan lain; di sana kelak, tidak. Masing-masing  orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama hidup di  dunia.&#8221;</p>
<p>Aku berhenti, karena kudengar ada isak tangis yang semakin lama  semakin mengeras. Ternyata tangis Mbok Yem di pangkuan Mbah Joyo yang juga  terlihat berkaca-kaca kedua matanya. Seisi kemah pun terdiam. Sampai datang  seorang petugas kloter menyuruh semuanya bersiap-siap untuk acara salat bersama  &#8211;Dhuhur dan Asar&#8211; dan melanjutkan ritual wukuf dengan berdzikir dan  berdoa.</p>
<p>Aku perhatikan, sejak selesai acara salat dan berdoa bersama,  hingga akhirnya masing-masing berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri, Mbok Yem dan  Mbah Joyo terus menangis dan hanya mengulang-ulang astaghfirullah,  astaghfirullah&#8230; Memohon ampun kepada Allah. Tak terdengar kedua sejoli tua ini  berdzikir atau berdoa yang lain.</p>
<p>***</p>
<p>Malam ketika arus air bah  kendaraan dan manusia mengalir dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, di atas bus  kami sendiri, hanya terdengar talbiyah dan takbir. Kecuali sepasang mulut yang  masih terus beristighfar. Mulut Mbok Yem dan Mbah Joyo.</p>
<p>Menjelang dini  hari kami sampai wilayah Muzdalifah. Dari kejauhan, kerlap-kerlip lampu tampak  semakin memperindah panorama Masy’aril Haram. Bus kami berhenti dan rombongan  berhamburan turun dalam gelap, mencari batu-batu kerikil untuk melempar Jamrah.  Ibu aku minta tetap di bus, aku dan adikku saja yang turun. Yang lain ternyata  turun semua. Beberapa di antaranya ada yang sudah siap dengan lampu senter kecil  dan kantong kain tempat batu-batu kerikil. Di sana-sini terlihat beberapa  kendaraan juga sedang parkir, menunggu para penumpangnya mencari kerikil.</p>
<p>&#8220;Jangan jauh-jauh!&#8221; terdengar suara ketua rombongan memperingatkan.  Orang-orang tidak mau mendengarkan. Bukan karena apa-apa. Mereka sudah telanjur  tidak simpati kepada petugas yang menurut mereka hanya pandai bicara saja. Tak  pernah ngurus jamaah. Menemui jamaah hanya kalau mau menarik pungutan ini-itu  yang tidak jelas peruntukannya.</p>
<p>Tapi ketika sudah cukup lama dan masih  banyak yang ke sana-kemari, aku dan beberapa orang yang sudah dari tadi selesai  mencari kerikil, ikut membantu ketua rombongan meneriaki dan bertepuk-tepuk  tangan; memperingatkan mereka agar segera naik kendaraan. Apalagi sopir bus  &#8211;orang Mesir&#8211; sudah ngomel-ngomel terus sambil naik-turun bus, tidak sabar.  Apalagi kendaraan-kendaraan yang lain pun sudah cabut bersama para penumpangnya  menuju Mina.</p>
<p>Mereka akhirnya kembali juga naik bus, meski ada di antara  mereka yang sambil menggerutu, &#8220;Sopir kok didengerin. Ini kan ibadah. Di sini  aturannya kita kan menginap. Mengapa buru-buru?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, mungkin si  sopir mempertimbangkan padatnya lalu-lintas, takut terlambat sampai Mina,&#8221; aku  mencoba menyabarkan si penggerutu. &#8220;Lagi pula kita kan di sini sudah melewati  jam 12. Jadi sudah terhitung menginap.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba, ketika ketua  rombongan baru mengabsen dan menghitung jamaah, terdengar Mbok Yem teriak  histeris, &#8220;Mbah Joyo! Mana Mbah Joyoku?!&#8221; Seketika semuanya baru menyadari bahwa  Mbah Joyo belum kembali. Mbok Yem meloncat turun dari bus sambil terus menangis  dan menjerit-jerit memanggil-manggil suaminya. Hampir seisi bus ikut turun. Ibu  dan adikku mengikutiku mengejar Mbok Yem, mencoba  menenangkannya.</p>
<p>&#8220;Tenanglah, Mbok Yem,&#8221; bujuk ibuku sambil merangkul  perempuan tua itu. &#8220;Mbah Joyo tidak ke mana-mana. Kita pasti akan  menemukannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Mbok,&#8221; adikku ikutan membujuk. &#8220;Kalau pun Mbah Joyo  kesasar, di sini ada petugas khusus yang ahli menemukan orang kesasar.  Percayalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Mbok, kalau memang betul-betul kesasar, saya nanti yang  akan menghubungi polisi atau petugas yang lain,&#8221; aku menimpali. &#8220;Mbah Joyo pasti  kembali bersama kita lagi.&#8221;</p>
<p>Aku sendiri dan mungkin juga ibu dan adikku  tidak begitu yakin dengan apa yang kami katakan. Namun alhamdulillah, meski  masih terisak dan bicara sendiri, Mbok Yem bisa agak tenang. &#8220;Mbah Joyo itu  penyelamatku!&#8221; desisnya berkali-kali.</p>
<p>Kepala rombongan dan beberapa orang  lelaki, termasuk sopir, yang mencoba mencari sampai di luar area tempat mereka  tadi mencari kerikil, sudah kembali tanpa hasil. Ada yang menduga Mbah Joyo  mungkin kesasar naik kendaraan lain yang diparkir di dekat mereka. Kita  berunding dan sepakat akan meneruskan perjalanan sambil mencari. Semua kembali  naik bus. Mbok Yem yang dibimbing ibu dan adikku, sebentar-sebentar masih  menoleh ke arah padang gelap Muzdalifah. Ibu mengawani duduk dan masih terus  merangkul sahabat tuanya yang kini diam saja itu.</p>
<p>***</p>
<p>Subuh,  kami baru sampai Mina. Semuanya terlihat letih, lebih-lebih Mbok Yem. Untung,  tidak lama mencari, kami telah sampai kemah maktab kami. Dan, begitu masuk  kemah, bukan main terkejut kami. Kami melihat Mbah Joyo sedang duduk bersila  menyantap buah anggur dari pinggan besar yang penuh aneka buah-buahan. (Selain  anggur, ada apel, jeruk, pisang, buah pir, dll).</p>
<p>Mbok Yem langsung  menjerit, &#8220;Mbah Joyo!&#8221; dan menghambur serta memeluk dan menciumi suaminya itu  sambil menangis gembira. Mbah Joyo sendiri hanya tersenyum-senyum agak  malu-malu. Sejenak yang lain masih terpaku keheranan. Baru kemudian meluncur  hampir serempak, &#8220;Alhamdulillaaaah!&#8221;</p>
<p>Semuanya kemudian merubung Mbah Joyo  yang masih terus dipeluk, dielus, dan diciumi Mbok Yem. Semuanya  gembira.</p>
<p>&#8220;Sudah dulu, Mbok Yem,&#8221; tegur ketua rombongan, &#8220;nanti  dilanjutkan kangen-kangenannya. Biarlah Mbah Joyo bercerita dulu.&#8221; Kemudian  kepada Mbah Joyo, &#8220;Mbah Joyo, Sampeyan ke mana saja semalam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya,  Mbah,&#8221; sela yang lain, &#8220;Sampeyan salah masuk bus ya?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok tahu-tahu  Mbah Joyo sudah sampai di sini ini ceritanya bagaimana?&#8221; tanya yang lain lagi.</p>
<p>&#8220;Mbah Joyo sudah melempar jumrah ’aqabah?&#8221;</p>
<p>Mbah Joyo mengangguk  sambil tersenyum. &#8220;Lihat, kan saya sudah pakai piyama!&#8221; Kemudian bercerita  seperti sedang menceritakan sebuah dongeng.</p>
<p>&#8220;Saya tidak kesasar dan  tidak salah naik bus. Saya bertemu dengan seorang muda yang gagah dan ganteng  dan diajak naik kendaraannya yang bagus sekali. Saya bilang bahwa saya bersama  rombongan kawan dan istri saya. Dia bilang sudah tahu dan meyakinkan saya bahwa  nanti saya akan ketemu juga di Mina. Bapak sudah tua, katanya, nanti capek kalau  naik bus. Akhirnya saya ikut. Sampai Mina saya dibawa kemari, disuruh istirahat  sebentar. Saya tertidur entah berapa lama. Tahu-tahu menjelang subuh saya  dibangunkan dan diajak melempar jumrah ’aqabah. Setelah itu saya diantar kemari  lagi. Sambil meninggalkan buah-buahan ini, dia pamit dan katanya sebentar lagi  kalian akan datang. Dan ternyata dia benar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia itu siapa, Mbah? Orang  mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah iya. Saya lupa menanyakannya. Soalnya begitu ketemu dia itu  langsung akrab. Jadi saya kemudian sungkan dan akhirnya, sampai dia pergi, saya  lupa menanyakan nama dan asalnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ajaib!&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Sesudah  selesai melempar jumrah ’aqabah, rupanya jamaah sudah tak tahan lagi. Mereka  bergelimpangan melepas lelah. Dan tak lama terdengar suara ngorok dari  sana-sini. Kulihat Mbok Yem sendiri yang tampak masih segar dan ceria. Dia malah  bercerita sambil memijit kaki ibuku. &#8220;Mumpung Mbah Joyo tidur,&#8221; katanya.  Sementara aku dan adikku ikut mendengarkan sambil tiduran. Namun tersentuh  cerita Mbok Yem, tak terasa kami berdua akhirnya terduduk juga.</p>
<p>Rupanya  Mbok Yem yakin apa yang dialami Mbah Joyo itu merupakan anugerah Allah yang ada  kaitannya dengan amal perbuatannya. Dia menceritakan mengapa dia sampai histeris  ketika Mbah Joyo hilang di Muzdalifah. Mbok Yem ternyata dulunya adalah WTS  &#8211;sekarang &#8220;diperhalus&#8221; istilahnya menjadi Pekerja Seks Komersial&#8211; dan Mbah  Joyo adalah &#8220;langganan&#8221;-nya yang dengan sabar membuatnya sadar, mengentasnya  dari kehidupan mesum itu, dan mengawininya. Lalu Mbok Yem dan Mbah Joyo memulai  kehidupan yang sama sekali baru. Di samping mendampingi Mbah Joyo bertani, Mbok  Yem berjualan pecel, kemudian meningkat dengan membuka warung makan  kecil-kecilan. Dan sebagian dari hasil pekerjaan mereka itu, mereka tabung  sedikit demi sedikit. Bahkan mereka rela hidup tirakat, demi mencapai cita-cita  mereka: naik haji. Mereka mempunyai keyakinan bahwa dosa-dosa mereka hanya bisa  benar-benar diampuni, apabila beristighfar di tanah suci, di Masjidil Haram, di  Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina. Seperti kata pak kiai di kampungnya, haji  yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ternyata baru setelah setua itu,  uang yang mereka tabung cukup untuk ongkos naik haji.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah,  Mbah Joyo tidak benar-benar hilang,&#8221; kata Mbok Yem mengakhiri ceritanya.  &#8220;Sehingga kami berdua masih berkesempatan menyempurnakan ibadah haji kami.  Semoga Allah memudahkan. Setelah selesai nanti, kami ikhlas, kalau Yang Maha  Agung hendak memanggil kami kapan saja. Syukur di sini, di tanah suci ini.&#8221;</p>
<p>Mbok Yem mengusap airmatanya, airmata bahagia, baru kemudian pelan-pelan  dibaringkan tubuhnya di sisi ibuku.</p>
<p>***</p>
<p>Rembang, 1423/2002</p>
<p>Catatan: sumber : Harian &#8220;JAWA POS&#8221; tanggal 27 April 2003 (yang dikutip  dari website: www.wanita-muslimah.com. dikutip oleh Ade Anita)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=21&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/cerita-pendek-kh-a-mustofa-bisri-mbok-yem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bunga Cantik di Tengah Padang Rumput</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bunga-cantik-di-tengah-padang-rumput/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bunga-cantik-di-tengah-padang-rumput/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 09:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Siapa di antara anda yang belum pernah mendengar pepatah yang mengatakan “Tak kenal maka tak cinta?”. Tentu semuanya sudah pernah mendengarnya, baik pada waktu pelajaran peribahasa di Mata Ajaran Bahasa Indonesia atau dalam pergaulan sehari-hari karena pepatah ini kerap kali digunakan orang. Sekarang, malah ada sedikit perubahan dan penambahan kata dalam pepatah tersebut. Yaitu menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=19&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa di antara anda yang belum pernah mendengar pepatah yang mengatakan “Tak  kenal maka tak cinta?”. Tentu semuanya sudah pernah mendengarnya, baik pada  waktu pelajaran peribahasa di Mata Ajaran Bahasa Indonesia atau dalam pergaulan  sehari-hari karena pepatah ini kerap kali digunakan orang. Sekarang, malah ada  sedikit perubahan dan penambahan kata dalam pepatah tersebut. Yaitu menjadi &#8220;Tak  Kenal Maka TaÂ’aruf.&#8221;</p>
<p>Berbedakah keduanya ?</p>
<p>Dari kedua kalimat  tersebut, sebenarnya ada perbedaan arti meski hanya sedikit dan tipis sekali.  Taruh sebuah permisalan. Jika anda bertemu dengan seseorang yang tidak anda  kenal sama sekali, tentu anda ingin mengenalnya lebih jauh dan keinginan untuk  mengenalnya itu begitu kuat muncul dalam diri anda. Anda ingin tahu siapa  namanya, dimana dia tinggal, apa kegiatannya dan segala sesuatu yang  menyelingkupi kehidupan teman baru anda itu. Dalam kondisi seperti ini maka  pepatah ‘yang baru’ akan diterapkan, “Tak Kenal Maka TaÂ’aruf.”</p>
<p>Tahukah  anda bahwa sebenarnya dalam proses perkenalan itu telah terjadi sebuah proses  lain yang juga berkembang dalam diri kita. Yaitu sebuah proses pemilahan  kelompok teman. Pada waktu kita mulai melancarkan rangkaian pertanyaan padanya  tanpa kita sadari yang kita cari adalah kesamaan dan kesesuaian dalam beberapa  hal yang sekiranya akan menjadi perekat perkenalan tersebut.</p>
<p>“Eh.. suka  baca buku nggak ?” atau “Oh, kamu tinggal disana yah ? Hmm, aku punya teman di  sana, kenal sama A nggak yah, dia tinggal di blok Z.”</p>
<p>Proses perekat  hubungan inilah pada banyak orang diartikan sebagai sebuah proses “Tak Kenal  maka Tak Cinta.”. Tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya tidak melulu arti  pemahaman sebuah perkenalan akan berakhir dengan sesuatu yang manis seperti yang  diharapkan dalam pepatah tersebut. Ada kalanya, setelah sebuah perkenalan  terjadi, lalu pengenalan diri masing-masing berlanjut pada hal yang lebih jauh,  sebuah hubungan ‘perkenalan’ bisa jadi ikut berakhir pula seiring dengan  perpisahan yang terjadi dalam sebuah pertemuan. Mengapa hal ini bisa terjadi?</p>
<p>Sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia untuk dapat memperoleh  kepercayaan dan rasa aman dalam dirinya. Inilah yang terjadi dalam proses  pemilahan kelompok teman yang baru kita kenal. Yup. Ada sebuah proses lain dalam  sebuah perkenalan yang tanpa kita sadari telah menggiring kita untuk melakukan  sebuah pemilahan yang sangat bersifat subjektif karena kebutuhan kita akan rasa  percaya dan dan rasa aman tersebut.</p>
<p>Tanpa kita sadari kita mulai  melakukan pemilahan dan pencarian data apakah dia cukup bermanfaat sebagai  seorang teman ataukah tidak, ada sebuah istilah yang mungkin lebih pas tapi  konotasinya pada beberapa orang mungkin menyakitkan telinga yang sensitif, yaitu  “seberapa pantas orang yang baru anda kenal itu bisa menjadi teman  anda”.</p>
<p>“Seberapa pantas…”, terdengar sangat arogan dan tidak bersahabat  yah? Tapi meski terdengar sangat tidak sopan, memang itulah yang sesungguhnya  terjadi dalam sebuah proses perkenalan. Dalam alam pikiran sederhana, bagaimana  mungkin kita akan bisa meletakkan rasa percaya kita pada seseorang yang tidak  kita kenal? Dalam alam pikiran sederhana, bagaimana mungkin kita akan merasa  aman pada seseorang yang tidak kita kenal? Sekali lagi, dalam alam pikiran  sederhana, bagaimana mungkin kita akan memberikan rasa sayang, rasa cinta kita  pada seseorang yang tidak kita kenal. Bukankah “Tak kenal maka Tak Cinta ?”</p>
<p>Dan disinilah letak ketertakjubanku pada peristiwa yang aku alami yang  justru membuatku berpikir, tidak selamanya mungkin sebuah pertemuan dengan  seseorang yang kita belum kita kenal akan melahirkan keinginan untuk ta’aruf,  dan rasa sayang bisa saja terjadi tanpa didahului sebuah perkenalan yang memuat  sebuah isian biodata yang harus diisi dalam blangko pencernaan pikiran biasa  (tanya nama, alamat dan sebagainya).</p>
<p>Peristiwa yang pertama adalah  sebuah peristiwa di sebuah bis kota yang melaju lamban di jalan raya yang macet  di pinggir kota Jakarta yang memang sudah sangat padat setiap jalur badan  jalannya dengan kendaraan yang berseliweran setiap harinya.</p>
<p>Hari cukup  panas ketika itu dan bau keringat penumpang mulai menyebar menimbulkan sebuah  perasaan tidak nyaman. Di sebelahku duduk seorang gadis berjilbab yang bertubuh  agak besar. Dia sedang asyik membaca sebuah buku. Kulirik buku di tangannya dan  mengenalinya sebagai salah satu buku yang sering aku lihat di pajang di toko  buku.</p>
<p>Secara iseng (sungguh ini pertanyaan iseng karena aku mulai jenuh  dengan masa menunggu kemacetan lalu lintas) aku mulai bertanya tentang apa judul  buku yang dia baca. Gadis itu memperlihatkan judulnya padaku. Lalu aku mulai  melontarkan pertanyaan apa isi buku tersebut dengan gaya sok akrab dan gadis itu  melayani pertanyaanku dengan sabar dan penuh senyum.</p>
<p>Hmm, tampaknya dia  mulai mengerti akan ketidak nyamanan yang aku alami dalam bis kota yang padat  itu dan keterasingan untuk segera terbebas dari tempat dudukku yang keras  sehingga dengan penuh keikhlasan gadis itu memberikan waktunya untuk menjawab  pertanyaanku. Tanpa kami sadari kami terlibat sebuah diskusi menarik dan asyik.</p>
<p>Aku memang senang membaca dan lebih senang lagi jika diajak seseorang  untuk bertukar pikiran tentang sebuah topik dari sebuah materi yang pernah aku  baca atau aku ketahui. Hingga tak terasa tujuan akhir telah tiba. Gadis itu  harus turun lebih dahulu dariku dan apa yang dia lakukan kemudian membuatku  cukup ternganga dan sangat berkesan pada pertemuan dengannya.</p>
<p>“Aku ingin  memberikan buku ini padamu.”</p>
<p>Subhanallah. Aku tahu dalam pembicaraan  kami tadi bahwa buku itu belum dua jam yang lalu dibelinya di toko buku. Bahkan  sampai halaman pertengahan pun gadis itu belum usai membacanya. Bagaimana  mungkin dia akan memberikannya begitu saja padaku padahal tadi baru saja dia  katakan bahwa dia menginginkan buku itu sejak lama sehingga dia menabung sedikit  demi sedikit uang sakunya untuk dapat membeli buku itu.</p>
<p>“Tidak. Aku  tidak menginginkannya. Buku itu milikmu, kamu belum selesai membacanya, bacalah  dulu sampai selesai.” Aku menolaknya dengan keras.</p>
<p>“Tapi aku ingin  memberikan buku ini padamu.” Gadis itu tetap  bersikeras.</p>
<p>“Tidak.“</p>
<p>“Terimalah. Anggap ini hadiahku untukmu, kamu  memang pantas menerimanya. Ayo, terimalah buku ini sebagai kenang-kenangan  dariku karena aku tidak tahu kapan lagi kita akan bertemu di waktu yang akan  datang.”</p>
<p>Duhai. Kalimatnya menimbulkan rasa haru yang mendalam, aku  termangu sejenak tapi segera tersadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk jadi  melankolis. “Tidak. Aku tidak bisa menerimanya.”</p>
<p>“Terimalah hadiahku ini.  Kamu belum membacanya kan, bacalah, aku sudah membacanya sebagian dan isinya  sangat menarik, sedangkan kamu belum membacanya sama sekali, aku ingin kamu  membacanya juga dan bacalah sampai akhir.”</p>
<p>“Kenapa?“ Aku bertanya dengan  bodoh. Sungguh aku tidak tahu kenapa gadis itu bersikeras memberikan buku  barunya padaku.</p>
<p>“Kenapa kamu ingin memberikan buku barumu padaku, padahal  kamu menginginkan buku ini sejak lama. Kenapa?”</p>
<p>“Karena aku sayang  padamu. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan saat ini yang aku miliki  adalah buku baruku ini. Percayalah padaku bahwa aku menyayangi kamu karena Allah  semata sehingga jika saat ini kamu menginginkan yang lain dariku, seperti  mataku, rambutku, tanganku, semua akan kuberikan padamu detik ini juga karena  aku sayang padamu karena Allah semata.”</p>
<p>Aku makin ternganga. Belum ada  satu jam kami berbincang dan diskusi tapi rasa sayang yang dia miliki padaku  sudah demikian mendalamnya sementara namanya saja aku sama sekali tidak tahu  karena dia memang hanya kujadikan seorang teman untuk membunuh waktu jenuhku di  dalam kendaraan tersebut.</p>
<p>Ada sebuah rasa haru yang kian membuncah dalam  dadaku mendengar untaian kalimat terakhirnya sekaligus melahirkan sebuah  dorongan untuk menerbitkan mutiara bening dari sudut kelopak mataku. Aku tidak  sanggup berkata apa-apa karena terbalut haru dan buku itu sudah berpindah  tangan, diletakkan gadis itu di dalam genggamanku sementara dia bersiap untuk  turun dari kendaraan. Pada perhentian selanjutnya gadis itu mulai berdiri  menepi.</p>
<p>“Mbak..makasih yah. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya  bahkan kita belum sempat berkenalan. Mbak juga tidak tahu siapa aku.” Gadis itu  hanya tersenyum ramah mendengar kalimatku yang mungkin terdengar sangat  bodoh.</p>
<p>“Itu tidak penting. Yang aku tahu kamu adalah saudariku dalam  islam. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan dengan masing-masing dalam  kondisi yang lebih baik.”</p>
<p>Kemudian bis berhenti dan setelah mengucapkan  salam, gadis berjilbab itu melesat turun sambil melambaikan tangannya padaku.  Aku membalas salamnya sambil tersenyum dan setelah dia menghilang dari  pandanganku aku mulai membaca judul bukunya.</p>
<p>“Menjadi Muslimah yang  kaffah.”</p>
<p>Hmm, mungkin dia memberikan buku itu karena aku belum  berjilbab. Yup. Kejadiannya memang sudah lama sekali, sewaktu aku masih kuliah  dulu dan masih banyak mempertimbangkan banyak hal sehingga belum timbul  keinginan kuat untuk menutupi auratku secara lengkap dengan sebuah hijab yang  semestinya.</p>
<p>Aku sangat terkesan dengan peristiwa itu karena di kampus,  teman-teman akhwat lain lebih banyak yang memilih untuk tidak menaruh  kepercayaan dan kasih sayang sebesar seperti yang diberikan oleh gadis tadi. Di  kampus mereka memberlakukan sebuah jarak dalam membina hubungan denganku yang  notabene sebenarnya memiliki agama yang sama dengan mereka hanya saja aku belum  berjilbab. Image muslimah sebagai sebuah kelompok eksklusif dalam kepalaku telah  hancur lebur dalam hitungan detik dengan kehadiran gadis berjilbab itu.</p>
<p>Sekarang aku alhamdulillah sudah mengenakan jilbab, sudah berkeluarga  dan sudah dikaruniai dua orang jundi yang manis. Kesibukan sehari-hari dalam  urusan pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga hampir tidak menyisakan waktu luang  bagiku. Lebih dari itu, kadang timbul sebuah proses pemilihan teman dalam  bergaul yang terus terjadi tanpa aku sadari.</p>
<p>Jika ibu-ibu lain di  sekitar rumahku sering berkumpul di depan pagar rumahnya maka bisa dikatakan aku  jarang sekali ikut berkumpul dengan mereka. Jika ada acara pertemuan antar  ibu-ibu di lingkungan rumahku, entah itu arisan rt, pengajian bulanan, pertemuan  bulanan antar warga, atau bahkan acara resmi seperti selamatan atau kenduri,  bisa dipastikan aku hanya hadir pada saat acara resmi itu berlangsung saja.  Setelah acara resmi selesai, ketika piring gelas mulai dikumpulkan di tengah  tikar, aku memilih untuk segera mengundurkan diri ketimbang ikut bergerombol  bersama ibu-ibu yang lain membuat pembicaraan dan acara baru di luar acara  inti.</p>
<p>Hmm, aku tetap berusaha untuk bergaul akrab, ikut tersenyum dan  bersenda gurau atau berdiskusi dengan teman-teman ibu-ibu rumah tangga yang lain  dalam konteks acara yang aku ikuti masih berlangsung. Setelah itu, setelah acara  itu selesai, aku lebih memilih untuk mengundurkan diri lebih karena alasan  menghindari kemudharatan.</p>
<p>Sudah bukan menjadi rahasia lagi apa yang  dilakukan oleh para ibu-ibu rumah tangga jika mereka berkumpul dan mulai saling  bercengkerama di luar sebuah acara yang terkoordinir. Mereka akan membicarakan  hal-hal yang tidak bermanfaat dan inilah yang aku hindari. Terlibat dalam  pergaulan seperti itu bagiku seperti memakan sebuah buah simalakama. Dimakan  dalam arti kita melibatkan diri; kita akan terpengaruh dengan atmosfere mereka  karena mau tidak mau kita akan mengeluarkan suara dan terlibat dalam pembicaraan  mereka yang kelak kita akan menyesalinya sendiri. Pilihan kedua adalah tidak  memakannya, yaitu kita tetap diam jadi pendengar dan itu artinya kita membiarkan  isi pembicaraan mereka itu akan masuk ke telinga kita tanpa sebuah perlawanan,  mengendap di dalam hati dan secara tidak sadar akan menimbulkan sebuah diskusi  dengan diri sendiri yang lebih banyak melahirkan sebuah su&#8217;udzon dan ketidak  nyamanan.</p>
<p>Ada sebuah pembenaran yang aku pegang dalam keputusanku untuk  melakukan apa yang menurutku saat ini baik bagiku, yaitu mencegah sebuah  kemudharatan itu lebih utama ketimbang menyebarkan manfaat. Hmm, benarkah  pembenaran ini? WallahuÂ’alam.</p>
<p>Nah, dalam kesibukan memilih teman dalam  pergaulan sehari-hari itulah terjadi peristiwa kedua yang juga sangat menyentuh  hati dan memberi kesan yang sangat mendalam bagiku. Kejadiannya terselip dalam  peristiwa rutinitas sehari-hari dan dalam waktu yang tidak terduga. Yaitu waktu  shubuh.</p>
<p>Ada sebuah kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan menjelang  waktu shubuh. Yaitu kesempatan untuk berjalan menikmati suasana damai menjelang  shubuh berdua saja dengan suamiku. Masjid tujuan kami letaknya lumayan jauh dari  rumah dan waktu yang terhampar di selang perjalanan menuju masjid itu biasanya  diisi dengan percakapan ringan yang lepas dari rasa kesal, jenuh dan bosan akan  rutinitas pekerjaan dan kegiatan.</p>
<p>Yang ada hanyalah senda gurau atau  curhat yang diiringi nasehat ringan diseling canda. Biasanya, setelah melakukan  shalat shubuh berjamaah di masjid kami segera bergegas menuju rumah karena tugas  rutinitas sehari-hari telah menunggu. Itu sebabnya waktu berangkat menuju masjid  itu menjadi lebih istimewa (menjadi makin istimewa karena kadang kesehatanku  yang sering terganggu dan kemalasan akibat kelelahan akan tugas sehari-hari  membuat acara manis ini menjadi kian sulit dilakukan).</p>
<p>Hari itu, seperti  biasa aku segera melipat perlengkapan shalatku dan mulai bersiap-siap untuk  pulang ketika ada seseorang yang menyapaku. Seorang wanita tua yang tampak  tersenyum dan memberiku salam. Aku membalas salamnya sambil ikut  tersenyum.</p>
<p>“Apa kabar nak? kenapa sudah lama sekali tidak kelihatan?”  sambil beringsut, aku mendekati ibu tua itu dan duduk di hadapannya sambil  menyalaminya dengan sopan.</p>
<p>“Sakit bu. Saya sudah beberapa hari ini sakit  jadi tidak bisa pergi kemana-mana termasuk ke masjid ini. Tapi alhamdulillah  sekarang sudah sehat kembali. Ibu sendiri gimana  kabarnya?”</p>
<p>“Alhamdulillah sehat nak.” Ibu itu masih memandangiku sambil  tersenyum lembut sekali. Tiba-tiba dia meraih kedua pergelangan tanganku dan  memegangnya dengan sangat erat.</p>
<p>“Ibu rindu sekali melihat kedatanganmu..  sudah hampir setengah bulan tidak melihat kamu hadir di sini.” Aku hanya  tersenyum tapi dalam hati tak urung heran. Setengah bulan, artinya ibu itu  menghitungnya. Artinya lagi, ibu ini tentu jamaah tetap di kala waktu shubuh di  masjid ini…wah… bagaimana aku bisa tidak tahu akan kehadiran ibu ini setiap kali  aku shalat disini. Hmm, mungkin karena aku selalu tergesa untuk pulang karena  memikirkan pekerjaan rumah tangga yang terasa sudah antri untuk dikerjakan. Duh,  betapa tidak pedulinya aku pada lingkunganku selama ini. Kalimat ibu itu mulai  terasa seperti sindiran bagiku.</p>
<p>“Ibu selalu berdoa agar kamu sehat nak…  sungguh, ibu mencintai kamu karena Allah dan selalu berharap bisa bertemu kamu  di sini, di masjid ini meski ibu sendiri juga tidak yakin karena ibu sudah  sangat tua dan makin rapuh.”</p>
<p>Subhanallah….<br />
Kali ini aku  sungguh-sungguh merasa terharu. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan apa  yang terjadi pada lingkungan sekitarku. Aku sibuk dengan urusan keseharianku  sendiri, aku sibuk dengan diriku sendiri sedangkan ibu tua di hadapanku, yang  mungkin hidupnya lebih susah, lebih kompleks permasalahannya, lebih rumit hal  tentang kesehariannya, tetap memiliki kemampuan untuk memperhatikan  lingkungannya.</p>
<p>Hmm.. tahukah anda. Kedua peristiwa berkesan di atas itu  sebenarnya sebuah nasehat yang sangat manis dari Allah untukku. Subhanallah.  Kadang, sebuah nasehat itu tidak melulu hanya berupa sebuah tausiyah panjang  lebar tentang hamparan hadits dan ayat.</p>
<p>Sebuah nasehat bisa juga berupa  perbuatan. Sama seperti perbuatan gadis berjilbab di bis kota di atas. Dengan  memperlihatkan keramahan dan kesantunan serta keikhlasannya (sampai sekarang aku  tidak pernah sekalipun lagi berjumpa dengannya, semoga Allah merahmatiNya  selalu, amin), aku jadi tergugah akan keindahan ukhuwah dalam islam dan  kemanisan budi pekerti muslimah sesungguhnya. Lebih dari itu, muncul semangat  untuk benar-benar mewujudkan jati diri sebagai “Muslimah yang kaffah”, seperti  nasehat yang diberikan dalam buku yang diberikannya secara cuma-cuma padaku.</p>
<p>Begitu juga dengan ibu tua di dalam masjid itu (hik..hik..aku tidak  pernah berjumpa lagi dengannya, dan aku sampai detik ini tidak tahu siapa  namanya, dimana dia tinggal dan informasi apapun tentang dia. Semoga beliau  tetap dalam lindungan Allah SWT). Dengan kelembutan seorang ibu yang bijak, dia  mengingatkan aku agar merindukan “masjid” selalu sesibuk apapun kegiatanku&#8230;  ibu itu juga mengingatkan aku bahwa penilaian akan lingkunganku selama ini  sebenarnya tidak selamanya benar. Bukankah di tengah hamparan rumput hijau di  tengah padangpun selalu terselip bunga berwarna cantik yang harum baunya meski  keberadaan bunga tersebut kecil mungil nyaris tak terlihat?</p>
<p>Kehadiran  mereka berdua adalah penyejuk dahaga di tengah perjalanan panjang dan  membosankan karena keterasingan yang monoton.<br />
Kehadiran mereka adalah  pendorong semangat ketika ghirah mulai kendur karena rutinitas keseharian yang  mulai menegangkan urat syaraf. Hmm.. wallahuÂ’alam.</p>
<p>Aku jadi teringat  sebuah hadits yang mengatakan bahwa :<br />
“Tidak sempurna iman seseorang di  antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya  sendiri.” (Dari kitab shahih Muslim, yang diriwayatkan oleh Anas bin  Malik).</p>
<p>Begitu besar rasa persaudaraan yang terkandung dalam hadits  tersebut hingga tidak ada pemilahan kelompok di dalamnya yang berdasarkan pada  beragam suku, ras, golongan, bangsa dan warna kulit. Semuanya adalah keluarga.  “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (al Hujurat:10).</p>
<p>Mencintai disini adalah menginginkan segala kebaikan yang dia miliki  untuk turut pula dirasakan oleh saudaranya.</p>
<p>“Demi Dzat yang jiwaku ada  di TanganNya, tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya  sebagaimana ia mencintai kebaikan dirinya sendiri.” (Dari riwayat  Nasa’i).</p>
<p>Kebaikan disini adalah kebaikan “menurut syariat” seperti ilmu  yang bermanfaat, amal yang shaleh, dan akibat yang positif. Tidak ada tempat di  sini untuk penilaian yang bersifat subjektif yang sering kita berlakukan jika  kita memilih teman tanpa kita sadari. Sama seperti nasehat halus yang diberikan  oleh gadis di bis kota itu padaku. Sementara teman-teman akhwat menolak  kehadiranku yang “berbeda” dengan mereka yang berjilbab lebar, maka gadis itu  dengan penuh keikhlasan mengajarkan aku arti ukhuwah sesungguhnya dan tanpa  sadar memberiku semangat untuk “mengenal islam (agama perdamaian) lebih jauh”.  Subhanallah.</p>
<p>Semoga kita semua bisa belajar untuk bisa pula menjadi suri  tauladan seperti kedua tokoh “nyata” yang aku temui di dalam hidupku itu.  Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah memberiku pelajaran yang sangat berharga.</p>
<p>“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.<br />
Engkau yang menciptakan ku dan aku adalah hambaMu.<br />
Aku terikat dalam  perjanjian dengan-Mu sekemampuanku.<br />
Aku berlindung kepada-MU dari segala  kejahatan yang telah aku lakukan.<br />
Aku mengakui nikmat-nikmat-MU kepadaku dan  aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tak ada yang bisa mengampuni  dosa-dosa, kecuali engkau” (HR. Bukhari)</p>
<p>Ade Anita</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=19&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bunga-cantik-di-tengah-padang-rumput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Aku Harus Menikah</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bila-aku-harus-menikah/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bila-aku-harus-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 09:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya jawab . Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar wanita menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=17&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya  akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya  jawab <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar  wanita menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang  tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang maupun pemikiran. Dan  ukuran matang tidaknya seseorangpun tidak ada parameter/spesifikasi yang  jelas.</p>
<p>Soal menggenapkan separuh dien, saya juga tahu kalo menikah itu  sunnah Rosul. Tapi, menikah itu bukan hanya mempertemukan seorang lelaki dan  seorang wanita saja. Menikah juga merupakan pertemuan dakwah, pertemuan yang  akan meningkatkan ghirah perjuangan dan produktifitas dakwah sehingga terjadi  persebaran dakwah yang lebih luas lagi (Red. Catatan Seorang Ukhti). Tuh kan..  nikah itu bukan maen-maen ?! Ada hal yang lebih berat lagi selain kesenangan dan  itu jelas-jelas akan dituntut pertanggungjawabannya dipengadilan akhir  nanti.</p>
<p>Oke, saya akan segera menikah. Tapi calon yang seperti apa?  Menurut pendapatnya Syeikh Musthafa Masyhur, Untuk membangun keluarga muslim  yang dilandasi taqwa, pertama kali seorang muslim harus mencari pasangan yang  baik keislamannya dan yang memahami tugas risalah hidupnya. Menjadikan pasangan  hidupnya sebagai sahabat dakwah yang baik, yang selalu mengingatkan bila ia  lupa, memberi dorongan dakwah dan tidak menghalanginya. Nah kan, berarti, saya  harus mencari pasangan yang baik keislamannya dan memahami tugas risalah  hidupnya (dengan kata lain adalah orang yang sholeh).</p>
<p>Soal sholeh, dulu  saya menganggap, dengan sholeh saja maka sifat-sifat istimewa lainnya akan  mengikuti. Ternyata tidak. Selain kriteria sholeh, kita juga harus bisa  mengenali keistimewaan sang calon dimata kita. Untuk apa ? Ya.. agar hidup kita  lebih berwarna dengan kehadirannya. Karena menikah bukan hanya untuk satu atau  dua tahun kedepan saja, tapi bisa jadi seumur hidup kita, sepanjang nafas keluar  dari ruh kita. Bisa dibayangkan, kalo ternyata sang calon tidak memiliki  keistimewaan tersendiri dihati kita, bagaimana warna hidup kita kelak ?! Pucat  pasi tanpa warna. Dan soal Falling in love at the first sight ?! Mmhh .. kenapa  enggak ?</p>
<p>Begitu pula saya. Saya ingin dinikahi bukan semata-mata karena  sang calon melihat kelebihan saya saja (kalau ada). Saya ingin dinikahi  seseorang karena saya istimewa dimatanya, dapat membuat binar pelangi  kebahagiaan yang tulus diwajahnya, serta dapat membumikan cinta kedalam hatinya.  Dan dengan senyum tulusnya pula, dia mampu membuat hati saya bergetar penuh  syukur keharuan akan anugerahNya.</p>
<p>Ya Rabbi, anugerahkanlah hamba salah  seorang hambaMu yang sholeh yang dapat menjadikan hamba seorang istri yang  sholehah, yang dapat menjadikan hamba ibunda dari para jundi-jundiMu, yang dapat  membantu hamba menegakkan dienMu, membahagiakan kedua orang tua kami,  meninggalkan dunia ini dalam keadaan khusnul khatimah, dan menjadikan hamba  akhlus surga .. Amin ya Allah ya robbal alamin.</p>
<p>Wallahualam bish  showab.</p>
<p>Irma</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=17&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/bila-aku-harus-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Menghalangimu Untuk Belum Berhijab Wahai Saudariku</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/apa-yang-menghalangimu-untuk-belum-berhijab-wahai-saudariku/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/apa-yang-menghalangimu-untuk-belum-berhijab-wahai-saudariku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 09:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Hijab adalah pakaian wanita muslim yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki (termasuk didalamnya jilbab/tudung dan pakaian yang longgar tidak memperlihatkan lekuk tubuh). Bagi orang awam, masalah hijab mungkin dianggap masalah sederhana. Padahal sesungguhnya, ia adalah masalah besar. Karena ia adalah perintah Allah SWT yang tentu didalamnya mengandung hikmah yang banyak dan sangat besar. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=15&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hijab adalah pakaian wanita muslim yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki  (termasuk didalamnya jilbab/tudung dan pakaian yang longgar tidak memperlihatkan  lekuk tubuh). Bagi orang awam, masalah hijab mungkin dianggap masalah sederhana.  Padahal sesungguhnya, ia adalah masalah besar. Karena ia adalah perintah Allah  SWT yang tentu didalamnya mengandung hikmah yang banyak dan sangat besar. Ketika  Allah SWT memerintahkan kita suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah  itu adalah untuk kebaikan kita dan salah satu sebab tercapainya kebahagiaan,  kemuliaan dan keagungan wanita.</p>
<p>Seperti firman Allah SWT: &#8220;Hai Nabi,  katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin  untuk mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya  mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangguÂ”.(QS. Al  Ahzab:59)</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam pernah bersabda: &#8220;Akan ada di  akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki,  mereka turun di depan pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi)  telanjang, diatas kepala mereka (terdapat suatu) seperti punuk onta yg lemah  gemulai. Laknatlah mereka! Sesunggunya mereka adalah wanita -wanita  terlaknat.&#8221;(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad(2/33))</p>
<p>Sabda Nabi Shallallahu  &#8216;Alaihi Wasallam juga pernah bersabda: “Dua kelompok termasuk penghuni Neraka,  Aku (sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu seperti orang yg membawa cemeti  seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia dan para wanita yg  berpakaian (tetapi ) telanjang, bergoyang berlenggak lenggok, kepala mereka (ada  suatu) seperti punuk unta yg bergoyang goyang. Mereka tentu tidak akan masuk  Surga, bahkan tidak mendapat baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari  jarak perjalanan sekian dan sekian.&#8221;(HR. Muslim, hadits no. 2128).</p>
<p>Dimasa  kini banyak alasan atau sebab yang sering dijadikan alasan mengapa para wanita  enggan untuk berhijab, diantaranya:</p>
<p><strong>1. Belum mantap</strong><br />
Bila  ukhti/saudari berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua  hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Selagi masih dalam  perintah manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerimanya. Tapi bila  perintah itu dari Allah SWT tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan saya  belum mantap, karena bisa menyeret manusia pada bahaya besar yaitu keluar dari  agama Allah SWT sebab dengan begitu ia tidak percaya dan meragukan kebenaran  perintah tersebut.</p>
<p>Allah SWT berfirman Allah: &#8220;Dan tidak patut bagi  lelaki mukmin dan wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan  suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.  Dan barangsiapa mendurhakai Allah SWT dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah  sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)</p>
<p><strong>2. Iman itu letaknya di  hati bukan dalam penampilan luar</strong><br />
Para ukhti/saudari yang belum berhijab  berusaha menafsirkan hadist, tetapi tidak sesuai dengan yang dimaksudkan,  seperti sabda Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasalam: “Sesungguhnya Allah SWT tidak  melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu tapi Dia melihat pada  hati dan amalmu sekalian.”(HR. Muslim, Hadist no. 2564 dari Abu  Hurairah).</p>
<p>Tampaknya mereka menggugurkan makna sebenarnya yang dibelokkan  pada kebathilan. Memang benar Iman itu letaknya dihati tapi Iman itu tidak  sempurna bila dalam hati saja. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan  diri dari Neraka dan mendapat Surga. Karena definisi Iman Menurut jumhur ulama  Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah: &#8220;keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan  pelaksanaan dengan anggota badan&#8221;. Dan juga tercantum dalam Al-Quran setiap kali  disebut kata Iman, selalu disertai dengan amal, seperti: &#8220;Orang yg beriman dan  beramal shalih&#8230;.&#8221;. Karena amal selalu beriringan dengan iman, keduanya tidak  dapat dipisah-pisahkan.</p>
<p><strong>3. Allah belum memberiku  hidayah</strong><br />
Ukhti/saudari yang seperti ini terperosok dalam kekeliruan yang  nyata. Karena bila orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang  lain mendo&#8217;akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan  sebab-sebab yang bisa mengantarkannya sehingga mendapatkan hidayah tersebut.  Seperti firman Allah SWT: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum  sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Â” (QS.  Ar-Ra&#8217;d: 11).</p>
<p>Karena itu wahai uhkti/saudari, berusahalah mendapatkan  sebab-sebab hidayah, niscaya Anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah  SWT. Diatara usaha itu adalah berdo&#8217;a agar mendapat hidayah, memilih kawan yang  shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti  majelis dzikir dan ceramah agama dan lainnya.</p>
<p><strong>4.Takut tidak laku nikah </strong><br />
Syubhat ini dibisikkan oleh setan dalam jiwa karena perasaan bahwa para  pemuda tidak akan mau memutuskan untuk menikah kecuali jika dia telah melihat  badan, rambut, kulit, kecantikan dan perhiasan sang gadis. Meskipun kecantikan  merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan  satu-satunya sebab dinikahinya wanita.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu Â‘Alaihi  Wasallam bersabda: &#8220;Wanita itu dinikahi karena empat hal; yaitu karena harta,  keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah wanita yg berpegang teguh dengan  agama,(jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu&#8221;. (HR. Al Bukhari,  kitaabun nikah,9/115).</p>
<p><strong>5. Ia masih belum Dewasa</strong><br />
Sesungguhnya  para wali, baik ayah atau ibu yang mencegah anak puterinya berhijab, dengan  dalih karena masih belum dewasa, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar  dihadapan Allah SWT pada hari Kiamat. Karena menurut syariat ketika seorang  gadis mendapatkan Haidh, seketika itu pula ia wajib untuk berhijab.</p>
<p><strong>6.  Orang tuaku dan suamiku melarang berhijab</strong><br />
Dasar permasalahan ini adalah  bahwa ketaatan kepada Allah SWT harus didahulukan daripada keta’atan kepada  mahluk siapa pun dia. Seperti dalam hadits shahih  disebutkan:</p>
<p>&#8220;sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.&#8221;(HR. Al  Bukhari dan Muslim). Dan sabda Rasul dalam hadist lainnya: &#8220;Dan tidak boleh  ta&#8217;at kepada mahluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada Al-Khaliq.&#8221; (HR. Imam  Ahmad, hadits ini shahih).</p>
<p>Maka dari itu wahai ukhti yang belum berhijab,  semoga tulisan ini mejadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yg  tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhwat yang belum menta’ati  perintah berhijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah SWT.</p>
<p>(Dikutip dari buku terjemahan yg berjudul asli Ila Ukhti Ghairil  Muhajjabah Mal Maani&#8217;u Minal Hijab? oleh Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly).</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>Hj. Dewi Setiani<br />
Penulis berdomisili di  Jogjakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=15&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/14/apa-yang-menghalangimu-untuk-belum-berhijab-wahai-saudariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH PEMUDA BERIBU-BAPAKAN BABI</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-pemuda-beribu-bapakan-babi/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-pemuda-beribu-bapakan-babi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 12:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah - Kisah Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain. Suatu hari Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=11&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.<br />
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. &#8220;Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?&#8221;.<br />
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.</p>
<p>Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.<br />
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. &#8220;Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.</p>
<p>Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.<br />
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. &#8220;Wahai saudara! Apa agama kamu?&#8221;. &#8220;Aku agama Tauhid&#8221;, jawab pemuda itu iaitu agama Islam. &#8220;Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu.&#8221; Kata Nabi Musa.</p>
<p>&#8220;Wahai tuan hamba&#8221;, kata pemuda itu. &#8220;Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.&#8221;, sambungnya.</p>
<p>&#8220;Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.&#8221;, tambah pemuda itu lagi.<br />
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. &#8216;Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami.&#8221;</p>
<p>Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : &#8220;Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga.&#8221;<br />
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.</p>
<p>Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.<br />
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.<br />
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.</p>
<p>Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.<br />
Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=11&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-pemuda-beribu-bapakan-babi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANJING-ANJING NERAKA</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/anjing-anjing-neraka/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/anjing-anjing-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 12:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah - Kisah Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu&#8217;adz, &#8220;Wahai Mu&#8217;adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan : ·    Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin. ·    Bacalah Al-Qur&#8217;an ·    tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain. ·    Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain. ·    Jangan engkau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=9&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu&#8217;adz, &#8220;Wahai Mu&#8217;adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :</p>
<p>·    Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.<br />
·    Bacalah Al-Qur&#8217;an<br />
·    tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.<br />
·    Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.<br />
·    Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka.<br />
·    Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.<br />
·    Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik.</p>
<p>·    Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain.<br />
·    Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.<br />
·    Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu.</p>
<p>Nescaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud, &#8220;Demi (bintang-bintang) yang berpindah dari satu buruj kepada buruj yang lain.&#8221;<br />
Sabda Rasulullah S.A.W., &#8220;Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itupun merobek serta menggigit tulangnya.&#8221;<br />
Kata Mu&#8217;adz, &#8221; Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamat daripadanya?&#8221;</p>
<p>Sabda Rasulullah S.A.W., &#8220;Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah S.W.T.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=9&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/anjing-anjing-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH LIMA PERKARA ANEH</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-lima-perkara-aneh/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-lima-perkara-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 12:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, &#8220;Esok engkau dikehendaki keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=6&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.<br />
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, &#8220;Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.&#8221;</p>
<p>Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, &#8220;Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.&#8221;<br />
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur &#8216;Alhamdulillah&#8217;.</p>
<p>Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.<br />
Maka berkatalah Nabi itu, &#8220;Aku telah melaksanakan perintahmu.&#8221; Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.</p>
<p>Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, &#8220;Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.&#8221;<br />
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, &#8220;Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.&#8221;</p>
<p>Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.<br />
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, &#8220;Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.&#8221;</p>
<p>Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, &#8220;Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.<br />
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.&#8221;</p>
<p>Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, &#8220;Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.&#8221;</p>
<p>Maka berkata Allah S.W.T., &#8220;Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu.&#8221; Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=6&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/kisah-lima-perkara-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AL-QUR&#8217;AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT</title>
		<link>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/al-quran-sebagai-pembela-di-hari-akhirat/</link>
		<comments>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/al-quran-sebagai-pembela-di-hari-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 12:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sh3gh4</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah - Kisah Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sh3gh4.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Abu Umamah r.a. berkata : &#8220;Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur&#8217;an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur&#8217;an.&#8221; Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur&#8217;an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya.&#8221; Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=4&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Umamah r.a. berkata : &#8220;Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur&#8217;an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur&#8217;an.&#8221;<br />
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur&#8217;an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya.&#8221;<br />
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, &#8221; Kenalkah kamu kepadaku?&#8221; Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : &#8220;Siapakah kamu?&#8221;</p>
<p>Maka berkata Al-Qur&#8217;an : &#8220;Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.&#8221;<br />
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur&#8217;an itu : &#8220;Adakah kamu Al-Qur&#8217;an?&#8221; Lalu Al-Qur&#8217;an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.<br />
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : &#8220;Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?&#8221;</p>
<p>Lalu dijawab : &#8220;Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sh3gh4.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sh3gh4.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sh3gh4.wordpress.com&amp;blog=5435490&amp;post=4&amp;subd=sh3gh4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sh3gh4.wordpress.com/2008/11/13/al-quran-sebagai-pembela-di-hari-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8fc872c918074dd5d71b66e7460197e9?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sh3gh4</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
